Selasa, 01 Januari 2008

CIRCULATION MANAGEMENT


CIRCULATION MANAGEMENT
(PENGELOLAAN SIRKULASI)

Tujuan : Mengembalikan fungsi sirkulasi darah

Diagnosa : • denyut nadi karotis (-) ® (5 - 10 detik)
• diagnosa syok :
- nadi radialis - lemah
- tidak teraba
- cepat
- pucat
- kulit dingin - basah
- capilary refill time > 2 detik

Macam-macam syok :
• Hipovolemik
• Kardiogenik
• Distributik
• Obstruktif

 Tidak semua hipotensi adalah syok
 Pada hipertensi dengan curah jantung

Gagal / kelainan jantung
Anak-anak :
Hipotensi bukan indikator yang baik u/ syok dan hipoperfusi

Catatan :
1.Menilai respon pada pemberian cairan ® syok hipovolemik® respon minimal ® cari perdarahan aktif® hentikan
2.Pasang CVP ® tergantung situasi
3.Transfusi ® - Whole blood, PRC
- Hangatkan dulu
- Tidak perlu diberi Ca glukonas
4. Cairan elektrolit ®1 cc darah diganti 2 - 3 cc elektrolit
5.Respons baik ® - klinis - produksi urin > 0,5 cc/kg BB

Pengelolaan umum
1. Syok hipovolemik karena perdarahan
Prinsip: Penggantian volume yang hilang dan perbaikan oksigenasi jaringan

Sistim Kardiovaskuler :

• Jantung: sebagai alat pompa
• Pembuluh darah: - kompartemen tempat darah mengalir
- merupakan sistim yang tertutup
• Darah: zat untuk pengangkutan oksigen dalam bentuk: - terlarut
- berikatan dengan Hb

Penyebab henti jantung ® -primer-sekunder
Henti jantung primer:
- fibrilasi ventrikel & asistol o/k:
• Iskemik myokard
• Heart block
• Obat - obatan
• Electric shock

Penyebab henti jantung sekunder :

 Rapid secondary cardiac arrest
• Asphyxia ok :-airway obstruction, apnea
• Kehilangan darah cepat
• Alveolar anoksia o/k :-edema paru akut-menghirup gas yang tidak mengandung oksigen
 Slow secondary cardiac arrest
• Severe hypoxemia o/k :
• Edema paru
• Konsolidasi paru ® shock lung
• Oligemic atau distributive shock
• Cardiogenic shock
• Acute brain insults (medullary failure & severe intractable hypotension & apnea)

Identifikasi henti jantung :
gambaran klinis berupa :
 gambaran henti sirkulasi a/l :
 hilang kesadaran
 apnea atau gasping
 sianosis atau pucat
 tidak ada pulse (karotis atau femoralis)

 Bila pulse : - radialis teraba ® tek sistolik > 80 mmHg
- femoralis teraba ® tek sistolik > 70 mmHg
- karotis teraba ® tek sistolik > 60 mmHg

 Dilatasi pupil ® terjadi ³ 1 menit setelah henti sirkulasi

 Perabaan art karotis pada anak-anak ® dapat menekan
airway ® laryngospasm


Tujuan external chest compression :
sistemik
untuk mengadakan sirkulasi
paru
“artificial circulation” ® dapat dihasilkan dengan teknik intermitten chest compression
(aliran darah ® yang lambat dapat diperbaiki dengan ratio kompresi & relaksasi 50 : 50)


Teknik external intermitten chest compression:

• Secara intermitten menekan sternum ke arah bawah
• Menekan jantung antara sternum dan tulang belakang
menimbulkan: “heart pump mechanism”
• Hal ini menimbulkan perubahan tekanan intratorakal
(chest pump mech):

Waktu toraks ditekan, terjadi oksigenisasi darah di paru - paru
dan pemompaan darah ke sirkulasi sistemik, tek intra torakal
tinggi ® mendorong darah keluar dari jantung,paru dan
pembuluh darah besar.

Waktu tek terhadap intra torakal dilepaskan

Jantung dan paru melebar

Darah masuk ke pemb darah intra torakal (thoracic diastole)
• Pilihan vena untuk akses i.v. :
– v. antekubital
– jugularis externa
– v. femoralis

• pilihan terakhir à - rapid venous cut – down,- v. saphenous